“Kumohon, hentikan tatapanmu!”
Teriak hatiku tiap kali matamu yang teduh keabuan menghujaniku dengan rentetan bahasa non-verbal yang aku tahu betul maknanya.
Aku hanya bisa tersengal-sengal kewalahan menghadapi serbuan tatapanmu. Biasanya aku hanya akan memalingkan muka untuk menghindarinya. Bahkan begitupun, aku masih bisa melihat tatapanmu melalui sudut mataku. Pada saat-saat seperti itu, aku memilih untuk pura-pura acuh.
Maafkan aku.
Tatapan itu hadir sejak beberapa tahun belakangan ini. Dulu…kau tidak seperti itu.
Ya, aku tahu, waktu terus berjalan, segalanya konstan berubah.
In life, things come and go…
Begitu kata mereka. Pun dengan tatapanmu. Awalnya aku tidak menyadarinya. Sedikitpun. Sampai hatiku merasakannya.
Bencikah aku dengan tatapanmu? Aku rasa tidak. Aku memakluminya. Aku hanya…yah…tatapanmu membuat hatiku tidak karuan.
Aku tahu kau mencintaiku. Sangat mencintaiku.
Pun aku terhadapmu.
Namun, tatapanmu juga yang membuatku sering enggan untuk pulang ke dalam dekapanmu. Aku merasa menjadi terdakwa di bawah palu hakim tiap kau menatapku.
Aku belum sanggup untuk balas menatapmu dengan keyakinanku, dengan segala jawaban yang ingin kau dengar.
Belum. Dan aku belum tahu kapan aku akan sanggup.
Lagi-lagi maafkan aku…
Tapi, aku hanya ingin kau tahu, walaupun mungkin tidak sebesar kau terhadapku…
AKU SANGAT MENCINTAIMU, IBU…



2 comments:
me feel that, too, darling... :'(
*cyber hugs*
mwahmwah! :*
Leave a Comment