Taking the first step is always the hardest part and people are too scared to leave it all behind. But without doing so, we will never know what the path has to offer.
Begitu pula yang terjadi dengan orang-orang yang sulit move on. Benarkah mereka mencintai terlalu dalam hingga mereka tidak bisa pergi? Saya rasa tidak. Mereka hanya takut, tapi mereka tidak mau jujur kepada diri sendiri bahwa mereka takut. Mereka bertahan dengan keadaannya sekarang dengan harapan suatu saat nanti akan terjadi keajaiban. Padahal, keajaiban itu untuk diciptakan, bukan ditunggu. Mereka terlarut dengan kesedihan-kesedihan dan kegundahan mereka tanpa menyadari bahwa waktu terus berjalan ke depan, tanpa menyadari mereka telah lebih banyak kehilangan. Mereka cenderung menutup mata dan telinga terhadap kenyataan, yang mungkin memang pahit. Mereka tidak sadar telah menghabiskan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan mungkin beberapa dekade, melakukan sesuatu yg sia-sia, menunggu keajaiban, bukan menciptakannya. Merekapun terjebak. Saat nantinya mereka tersadar dan menoleh ke belakang, sudah terlalu banyak hal berharga yang mereka lewatkan. Dan merekapun berharap bisa memutar ulang waktu. Sayangnya mereka tidak bisa.
There's no way back.
Lebih pahit mana?
Dan saat mereka menyesali semua hal yang telah mereka lewatkan, siapa yang bisa disalahkan? Could they point their fingers to themselves? I don't think so...


